-Bismillahirrahmanirrahim- Assalamualaikum. Kaifa halukum? Diharapkan semua baik2 saja. Entri kali ini saya nak berkongsi sedikit nota PIM 3112, Pengajian Aqidah yang dipelajari pada semester yang lalu. Dah habis sem baru nak kongsi? Sebenarnya dah lama ingin berkongsi, tapi sekarang baru berpeluang untuk taip semula apa yang dipelajari. Gaya macam busy sangat je. Huuu~ Tapi xpe la kan, better late than never omputih cakap. ^_~ Semoga nota ini bermanfaat untuk adik2 junior dan kepada yang membacanya. ' *** [Af'alullah] Definisi • Setiap kejadian yang berlaku di alam ini berdasarkan dengan kehendak dan iradat Allah Taala. • Setiap manusia wajib beriman dan redha dengan segala ketetapan dan pelaksanaan Allah terhadap hambaNya. Kerana kuasa Allah adalah mutlak. Manusia juga wajib yakin dan percaya Allah melaksanakan segala-galanya dengan kuasa, ilmu, kehendak dan segala sifat kesempurnaanNya dan bukan secara sia-sia. Contoh • Kejadian siang dan malam • Bencana alam • Pasang surut lautan Dalil "Dan ingatlah tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya, secara main-main." Surah al-anbiya’ 16 Kekeliruan memahami konsep af’alullah Zaman Rasulullah hingga zaman ulama’ khalaf Umat Islam beriman pada qadha’ dan qadar tanpa ada persoalan. Mereka menerima Islam dengan hati yang ikhlas. Apabila empayar islam berkembang Berlaku perbahasan falsafah dan budaya lalu menimbulkan kekeliruan terhadap konsep af’alullah. Antaranya mengenai pergerakan makhluk atau manusia. Adakah setiap gerakan tersebut atau kemahuan untuk melakukan sesuatu dikira sebagai perbuatan yang dijadikan Allah atau lahir daripada kudrat dan kekuasaan manusia itu sendiri? Pendapat Ahli Sunnah Wal Jama’ah Allah memberi kuasa memilih kepada manusia berdasarkan kepada akal dan wahyu dalam melakukan sesuatu perkara atau perbuatan. Namun, berlakunya sesuatu perkara atau perbuatan itu adalah dengan izin Allah. "Dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu mengenai sesuatupun, kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan seluruh alam." Surah at-takwir 29 Ayat ini menunjukkan bahawa manusia mempunyai pilihan dan kehendak mereka sendiri dalam melakukan sesuatu perkara dan perbuatan yang dijadikan oleh Allah. Sekiranya Allah tidak menghendaki perkara itu terjadi, ia tidak akan terjadi dan itulah ketentuan yang ditakdirkan oleh Allah.[Af'alul Ibad] Definisi Setiap perbuatan dan tindakan manusia bergantung kepada usaha dan ikhtiar manusia • Makan • Minum • Melayari facebook Bahagian af’alul ibad • Ikhtiari Sesuatu yang berlaku atas kemahuan dan kehendak manusia itu sendiri seperti beribadah, makan, tidur. • Ijbari Sesuatu yang berlaku bukan atas kehendak dan kemahuan manusia itu sendiri seperti bersin, cacat anggota, warna berkenaan af’alul ibad • Ahli Sunnah Wal Jama’ah Allah swt menjadikan kudrat dan iradat kepada manusia, dan mereka diberi kuasa memilih untuk melakukan perkara tersebut dengan izin Allah swt. • Qadariah Manusia berkuasa penuh melakukan sesuatu perbuatan tanpa ada sebarang hubungan dengan Allah. • Mu’tazilah Manusia berkuasa penuh melakukan sebarang perbuatan dengan kudrat dan iradat yang diberikan oleh Allah swt. • Jabariah Semua perbuatan adalah dengan kehendak Allah swt semata-mata. Manusia tiada kuasa langsung dalam sesuatu perbuatan. *** Oppss panjang sangat dah ni. InshaaAllah, nota akan disambung pada entri seterusnya. Keep on reading! ' Mantap aqidah, kukuh agama. 'CONTOHPERBENDAHARAAN KATA ARAB DALAM PENDIDIKAN SYARIAH ISLAMIAH Setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradat Allah. 2 Af'al al-'Ibad Setiap perbuatan dan tindakan manusia bergantung kepada usaha dan ikhtiar manusia sendiri. 3 'Asabah Ahli waris yang menerima harta pusaka si mati yang tidak ditentukan kadarnya.
Artikel Af'alul khomsah Pengertian, Contoh dan Tanda I'robnya menjelaskan tentang pengertian Af'alul khomsah, tanda I'rob yang terdapat di Af'alul khomsah, Contoh Af'alul khomsah di bahasa Arab serta contoh penulisan Af'alul khomsah di dalam Alqur'an. Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara, apabila saudara mempunyai pertanyaan silahkan tanyakan melalui kolom komentar di bawah atau melalui halaman itu Af'alul Khomsah?secara bahasa Arab af'alul khomsah berarti fi'il yang lima, Pengertian af'alul khomsah adalah setiap fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak dan ya' mu'annas mukhotobah. afa'alul khomsah atau fi'il yang lima itu sebagai berikut يَفْعَلَانِ artinya Dia berdua laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلَانِ artinya Kamu berdua laki-laki sedang mengerjakanيَفْعَلُوْنَ artinya Mereka laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلُونَ artinya Kalian laki-laki sedang mengerjakan تَفْعَلِيْنَ artinya Kamu wanita sedang mengerjakanDari pola wazan di atas akan kita gunakan untuk kata kerja sa ala bertanya dan fataha membuka sebagiamana contoh di bawah Tabel Perubahan kata dengan wazan pola af'alul khomsahContoh Af'alul khomsah di kalimat bahasa ArabBerikut 5 contoh penulisan Af'alul khomsah di dalam kalimat bahasa Arab, adapun warna kuning kami berikan kepada lafadz yang terdapat asma'ul khomsah supaya memudahkan di dalam mempelajari dan وَ مُهَمَّدٌ يَسْأَلاَنِ اِلَى الْاُسْتَاذِ Artinya Zaid dan Muhammad sedang bertanya kepada ustadzهُمْ يَقْرَئُوْنَ الْقُرْان فِى الْمَسْجِدِ Artinya Mereka membaca Al Qur'an di masjidاَنْتُمَا تَفْتَحَانِ الْبَاب Artinya Kamu berdua sedang membuka pintuاَنْتُمْ تنْصُرُوْنَ الْمُسْلِمَة Artinya Kalian semua sedang menolong muslimahاَنْتِ تَفْتَحِيْنَ الْكِتَابَ Artinya Kamu Wanita sedang membuka pintuTanda I'rob Af'alul khomsah di Bahasa ArabMenurut ilmu tata bahasa Arab, Af'alul khomsah memliki 3 tanda I'rob, 3 tanda i'rob di Af'alul khomsah adalah Rofa', Jazm dan Nashob. sebagaimana tertulis di dalam nadhoman kitab Alfyah waj'al li nahwi yaf'alaanin nuuna rof'an wa tad'iina wa tas لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رفْعًاوَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَاوَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْArtinya Jadikanlah Nun sebagai tanda rofa' untuk kalimat yaf'alaani, seperi lafadz tad'iina Fi'il Mudhori' dengan ya' muannas Mukhotobah dan seperti lafadz tas aluna fi'il mudhori' dengan wawu jama'. Adapun Jazm dan Nashob sama dengan membuang nun seperti lafadz lam takuuni li taruumi madzlamah seorang wanita tidak sengaja melakukan kedholiman"Dari nadhoman Alfiyah di atas dapat difahami bahwa Af'alul khomsah bisa memiliki tanda i'rob rofa' Tanda rofa'nya dengan adanya nun, seperti tad'iina dan tas aluna pada contoh nadhoman Alfiyah di atas. Adapun contoh I'rob rofa' dengan af'alul khomsah di bahasa Arab sebagai berikut اَنْتُمْ تَذْهَبُوْنَ اِلَى الْمَدِيْنَةِ Artinya Kalian semua lelaki pergi ke kota, tadzhabuuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahالمُسلِمُوْنَ يَقْرَئُونَ الْقُرْانَ فِى الْمَسْجِدِ Artinya Orang-orang muslim membaca Al qur'an di Masjid, yaqrouuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahالمُسلِمُوْنَ يَجْلِسُونَ فِى الْبَيْتِ Artinya Orang-orang muslim sedang duduk di rumah, yajlisuuna adalah contoh i'rob rofa af'alul khomsahI'rob Jazm di Af'alul KhomsahMenurut Nadhoman alfiyah di atas untuk menunjukkan adanya I'rob Jazm di Af'alul Khomsah adalah dengan membuang nun, seperti lafadz lam takuuni, yang asalnya takuuniina, karena ada amil yang menjazmkan berupa harfun lam, maka menjadi lam takuunii.لَمْ تَكُــــوْنِي asalnya adalah تَكُــــوْنِيْنَ, harfun lam menjamzkan fi'il mudhori' sehingga lafadz takuuniina harus membuang nun nya menjadi takuuniMembuang huruf Nun wajib sebagai tanda i'rob jazm juga tertulis di dalam nadhoman kitab imrithi sebagai berikut fakhadzfu nuunir rof'i qot'an yalzamu fil khomsatil af'aali khaetsu نُوْنِ الرَّفْعِ قَطْعًايَلزَمُ فِي الخَمْسَةِ لأَفْعَالِ حَيْثُ تُجْزَمُArtinya "Membuang nun alamat rofa' itu diwajibkan sebagai tanda I'rob Jazm pada Af'alul khomsah." Adapun contoh kalimat bahasa Arab dengan I'rob Jazm di Af'alul khomsah sebagai berikutاَنْتُمْ لَمْ يَنْصُرُو اَطْفَالُهُمْ Kamu semua belum menolong anak-anak mereka. yanshuruu adalah merupakan contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah لَمْ يَقْرَئُو الْقُرْان فِى الْمَسْجِد Mereka semua belum membaca Al Qur'an di Masjid, yaqrou adalah contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah لَمْ يَجْلِسُوْ فِى الْبَيْتِ Orang-orang muslim belum duduk di rumah, yajlisu adalah contoh i'rob jazm yang membuang nun, asalnya adalah Nashob di Af'alul KhomsahMenurut Nadhoman alfiyah di atas untuk menunjukkan adanya I'rob Nashob di Af'alul Khomsah adalah dengan membuang huruf nun, seperti lafadz litaruumii, asalnya adalah taruumiina, karena ada lam juhud yaitu lam yang menashobkan fi'il mudhori' maka menjadi litaruumi. لِتَرُوْمِي asalnya adalah تَرُوْمِيْنَ, terdapatnya lam juhud maka menashobkan fi'il mudhori' sehingga menjadi litaruumiMembuang Nun sebagai tanda I'rob Nashob pada af'alul khomsah juga tertulis di dalam nadhoman kitab jurumiyah ang berbunyi wa amma hadzfun nuuni fayakuunu 'alaamatan lin nasbi fil af'alil khomsatil latiy rof'uha bisyabaatin حَذْفُ النُّوْنِ فَيَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِى الْاَفْعَالِ الْخَمْسَةِ الَّتِي رَفْعُهَا بِثَبَاتِ النُّونِ Artinya " Adapun terbuangnya nun maka ia menjadi tanda bagi nashob pada fi'il yang lima ketika rofa'nya dengan tetap nun."Adapun contoh terbuangnya nun dengan sebagai tanda i'rob nashob kami berikan warna kuning. Contoh kalimat i'rob nashob dengan terbuangnya nun pada Af'alul khomsah sebagai berikut1. نَحْنُ لَنْ يَكْتُبُوْا فِى الْمَسْجِد Artinya Kami tidak akan menulis di masjid, yaktubu menjadi nashob karena amil nawashib lan, yaktubuu asalnya yaktubuuna2. لَنْ يَّضُرُّوا اللّهُ شَيْئً Artinya Mereka tidak akan memberi bahaya kepada Allah sedikit pun yadhurru menjadi nashob karena terdapat amil nawashib lan, yadhurru asalnya adalah yadhurruuna 2. فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ QS. Muhammad ayat 22 Artinya "Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?". tufsiduu menjadi nashob karena karena terdapat amil nawashib lan, tufsiduu asalnya adalah Penulisan Af'alul khomsah di dalam Al Qur'anAapun lafadz yang menunjukkan bahwa lafadz tersebut mengikui pola wazan af'alul khomsah kami berikan garis bawah supaya lebih mudah di dalam mempelajarinya Berikut adalah contoh penulisan af'alul khomsah di dalam Al Quran الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ QS. Al Baqoroh ayat 3 yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,. اَمْ لَمْ يَعْرِفُوْا رَسُوْلَهُمْ فَهُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَ ۖ QS. AL Mu'minun ayat 69 Artinya ataukan mereka tidak mengenal Rosul mereka muhammad, karena itu mereka mengingkarinyaفَاِذْ لَمْ يَأْتُوْا بِالشُّهَدَاۤءِ فَاُولٰۤىِٕكَ عِنْدَ اللّٰهِ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ ,,, QS. An nur ayat13 Artinya Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ QS. An Nur ayat 17 Artinya Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ QS. An Nur ayat 22 Artinya Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan AllahTabelcontoh afalul khomsah Contoh dalam Al Qur'an. Berikut ini contoh-contoh afalul khomsah di dalam Al Qur'an beserta surat dan ayatnya: Marfu' Surat Al Baqarah ayat 75: اَفَ تَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَكُمْ. Maka apakah kamu (Muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu.
Learning Arabic opens up a whole new world, not only because you get access to thousands and thousands of books, but also because you become aware of the different interpretations and understandings that can be derived from a single word. I want to concretize this with an example. In the Quran it says One possible translation is And be not like those who forgot Allah , so He made them forget themselves. Those are the defiantly disobedient. Q. 59 19 The words’ “He made them forget themselves” is a translation of the Arabic ansāhum. This verb is derived from the radicals nūn, sīn and yā and is in the form af’ala. This verb form bears several meanings and functions. One function is that it can change a verb that is intransitive and make it transitive, or make an already transitive verb double transitive. Let us look at an example with the verb nasiya. This verb is transitive and usually takes one object, “Zayd forgot the food.” is nasiya Zaydun al-akla. In this sentence Zayd is the subject and the food is the object. Now, if we put the verb nasiya in the form af’ala we get ansaa and the new sentence will be Ansaa Zaydan al-akla, “[someone] made Zayd forget the food.” Zayd, who was former the subject of the sentence has now become the first of two objects food being the other. The English translation of the Quranic verse above is made according to this linguistic principle. Allah made them forget themselves, because they forgot Allah. The verb form af’ala can also mean to discover that someone or something has a specific characteristic. The verb bakhila means to be stingy, for example Bakhila Zaydun, “Zayd was stingy.” If we change the verb to af’ala we get abkhala, and if we put it into a sentence we get Abkhala Ahmedu Zaydan. According to what we just said this sentence can be translated as follows “Ahmed discovered that Zayd was stingy”. If we apply this meaning of the verb form af’ala to the Quranic verse we get And be not like those who forgot Allah, and that He discovered [1] had forgotten themselves. Those are the defiantly disobedient. Q. 59 19 This interpretation argues that God does not punish them for having forgotten Him, but they forgot God, since they first forgot about themselves. According to the first interpretation then, forgetting oneself is a result and a punishment for forgetting Allah, but accordingly to the second interpretation they forget Allah because they forgot themselves in the first effect is one and the same, but the causes are different. I will end this post quoting Roger Du Pasquier because I think he captures how the above mentioned verse relates to the modern condition Islam has been given to man precisely to help him live through this last stage of history without losing himself. The final revelation of the prophetic cycle, it offers methods of resisting the present chaos, and of re-establishing order and clarity within the soul – as well as harmony in human relations – and of achieving the higher destiny to which the Creator has called us. Islam is addressed to man, of whom it has a deep and precise understanding, defining as it does his position in creation before God. Modern thought, by contrast, has no well-defined and generally accepted anthropology. concerning man it has amassed a vast array of facts, yet the very confusion and variety of these facts betrays an inability to give a coherent definition of the human condition. In no other civilisation has there been such a complete and systematic ignorance of the reason why we are born, why we are alive, and why we must die. Unveiling Islam p. 1 [1] The word “discovered” doesn’t mean that He didn’t know this before. This usage is common in the Quran.Dalamcontoh 'مَا أَحْسَنَ الْعِلْمَ', muta'ajjab minhu-nya adalah 'الْعِلْمَ'. Hukum muta'ajjab minhu pada shighot 'مَا أَفْعَلَ' adalah maf'ul dari af'ala sehingga ia dibaca nashab. Adapun hamzah dari af'ala itu untuk menunjukkan arti ta'diyah. Sehingga makna dari 'مَا أَحْسَنَ الْعِلْمَ' adalah 'شَيْءٌ جَعَلَهُ حَسَنًا' (sesuatu itu menjadikan ilmu bagus). Oleh Kurniawan Nata Dipura Editor Saeful Ramadhan Menempel di badan ia bernama baju, ada dijendela bernama gorden, tergerai dikasur dipanggil seprai melekat dikaki, di debut celana, Baju, Gorden, Seprai dan Celana asalnya dari Kain, Kain tertenun dari Benang, dan benang asalnya dipintal dari KAPAS, ibarat meja, Lemari, Pintu, kursi, bangku, wujud dan nama saja berbeda namun semua terbuat dari KAYU lah asalnya. Adalah Ke-Esa-an Allah pada segala perbuatan. Ketahuilah oleh engkau wahai salik bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah Af’al Perbuatan Allah ta’ala, sama saja perbuatan itu baik maupun jahat adalah perbuatan Allah jua. – Perbuatan baik, yaitu perbuatan yang baik pada rupa dan pada hakikatnya, seperti iman dan takwa. – Perbuatan Jahat, yaitu perbuatan yang jahat pada rupa tapi tidak pada hakikatnya, seperti kafir dan maksiat. Kafir dan maksiat pada hakikatnya baik juga karena terbit dari yang baik yaitu dari Allah. Dan tiap-tiap yang terbit dari Allah itu baik. Ingatlah bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini pasti ada manfaatnya, karena Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia. Salah satu contoh adalah Allah menciptakan nyamuk, dan nyamuk diciptakan hanya untuk berbuat jahat yaitu menghisap darah. Tapi walaupun hanya menghisap darah, nyamuk tetap mempunyai manfaat. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang-orang fasik.” “Tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau.” Cara Musyahadah menyaksikan Tauhid Af’al adalah, yaitu Engkau syuhud pandang/saksikan dan diyakinkan di dalam hati bahwa segala perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua terbit dari Allah. Jadi kenalilah dan saksikanlah bahwa Allah ta’ala itulah pelaku dibalik segala af’al perbuatan yang terjadi di alam semesta ini. Dalil yang menunjukkan bahwa segala perbuatan itu terbit dari Allah dan tidak dari selain-Nya, yaitu; shoffat96; “Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.” Syekh sulaiman Al Jazuli rohimahullah menjelaskan dalam kitab dalailul khoirot, bahwa “Tidak ada dari seseorang dan dari seluruh hamba-Nya suatu perkataan, perbuatan, gerak dan diam melainkan sudah lebih dahulu pada ilmu pengetahuan Allah ta’ala, Qodho dan Qodrat ketentuan dan kehendak Nya.” “Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab laughul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Dan dalil-dalil lainnya; 841, 1192; “Allah ta’ala berfirman dengan perkataan yang sama, yaitu; Dan Allah meliputi apa yang kamu kerjakan.” “Tidaklah kamu yang melempar tetapi Allah-lah yang melempar ketika engkau melempar.” “Dialah Allah yang menjadikan kamu dapat berjalan didaratan.” “Yang telah mejadikan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku.” “Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” Dan sabda nabi Muhammad saw; “Laahaula wala quwwata illa billahil Aliyyil Adziim / Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Dan lagi sabda nabi saw; “Laa tataharroka dzarrotun illaa bi iznillah / Tiada bergerak suatu zarroh pun melainkan dengan izin Allah.” Dan sabda nabi saw; “Sesungguhnya Allah yang menjadikan semua pekerja dan pekerjaannya.” HR. Al Hakim. Dan suatu isyarat dari nabi kita Muhammad saw, yaitu tidak pernah mendo’akan kehancuran kaum Quraisy yang telah menyakiti dirinya. Hal ini karena beliau musyahadah memandang bahwa perbuatan itu dari Allah. Dan Allah berfirman kepada nabi Muhammad saw di “Dan janganlah engkau sedih oleh perkataan meraka. Sungguh, kekuasaan akan perkataan mereka itu seluruhnya milik Allah. Dia maha mendengar, maha mengetahui.” Apabila engkau senantiasa musyahadah menyaksikan yang seperti yang demikian ini dengan penuh keyakinan, niscaya engkau terlepas dari bahaya syirik khofi dan mendapat maqom wihdatul af’al yang artinya meng-Esa-kan Allah ta’ala pada segala perbuatan sehingga fana’ lenyap segala perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya, karena nyatanya perbuatan Allah yang Maha Nyata. Jadi, engkau saksikan dengan jelas bahwa segala wujud majazi ini hilang sirna dan lenyap tiada arti dibawah Nur Wujud Allah yang sebenarnya. Seperti tiada arti cahaya lilin yang dinyalakan dibawah Cahaya Wujud Matahari. Dari berbagai uraian ini, maka kita ketahui bahwa sama saja perbuatan itu baik ataupun jahat pada hakikatnya dari Allah ta’ala jua. Dalil yang menunjukkan akan hal ini didasarkan atas hadits nabi saw, di dalam do’a beliau; “Allahumma innii audzu bika minka / yaa Allah, Aku berlindung dengan Engkau dari Engkau.” HR. Abu Daud dari Ali bin Abi tholib Dan dalam riwayat lain nabi bersabda; “Allahumma inni audzu bika min syarri maa kholaq / Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang engkau jadikan.” Dan hal ini juga sesuai firman Allah “Qul a’udzu bi robbil falaq, min syarri ma kholaq / Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan yang Dia jadikan.” Maka kalau sekiranya kejahatan itu bukan dijadikan Allah, maka tidak mungkin nabi mengucapkan do’a demikian. Jadi, jelaslah bahwa perbuatan baik dan jahat pada hakikatnya dari Allah. Dan Dalil-dalil lainnya; Qs. Annisa’ 4 78; “Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh. JIKA MEREKA MEMPEROLEH KEBAIKAN, MEREKA MENGATAKAN “INI DARI ALLAH”, DAN JIKA MEREKA MENDAPAT KEBURUKAN MEREKA MENGATAKAN, “INI DARI ENGKAU”. KATAKANLAH SEMUANYA DARI ALLAH. MAKA MENGAPA ORANG-ORANG ITU ORANG-ORANG MUNAFIK HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI PEMBICARAAN INI SEDIKITPUN?” Qs. Al-A’rof 7131; “Kemudian apabila KEBAIKAN datang kepada mereka, mereka berkata, “ini adalah karena usaha kami”. Dan jika mereka mendapat KESUSAHAN, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. KETAHUILAH, SESUNGGUHNYA NASIB MEREKA DITANGAN ALLAH, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.” “Dan jika Allah menimpakan suatu Bencana keburukan/kejahatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki Kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan Kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya. Dia maha pengampun, maha penyayang.” “Mereka menjawab, kami mendapat nasib yang Buruk disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu. Dia berkata, “Nasibmu ada pada Allah, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji”. “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka manusia TIDAK ADA PILIHAN. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” “Katakanlah, siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki Bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu? Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? KAMILAH YANG MENENTUKAN KEHIDUPAN MEREKA DALAM KEHIDUPAN DUNIA, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” “Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.” “Tidak ada suatu Musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” Sebagian Arifbillah membuat perumpamaan untuk memahami hal ini, yaitu seperti; Wayang yang dimainkan oleh dalang dengan berbagai macam gerak. Jadi wayang itu tidak mempunyai perbuatan sendiri, dan berbagai macam gerak wayang itu adalah mazhar kenyataan dari dalang itu sendiri. Maka seperti itulah antara hamba dengan Tuhannya. Walaupun segala perbuatan, gerak dan kejadian pada hakikatnya adalah dari Allah jua, maka janganlah engkau melanggar syariat nabi kita Muhammad saw dan tetap teguhlah dalam Takwa mengerjakan segala yang diperintahkan Allah dan Rosul-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Jadi janganlah sekali-kali menafsirkan bahwa gugur taklif syara’ tidak ada kewajiban hukum syariat. Apabila engkau beiktiqod berkeyakinan demikian, jadilah engkau kafir zindik. Na udzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, istiqomahlah dalam melaksanakan syariat nabi Muhammad saw dan juga tetaplah engkau Musyahadah dengan mata hatimu secara terus menerus berkekalan bahwa segala Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah jua. Sehingga lepaslah engkau dari syirik khofi syirik yg halus tidak kelihatan. Apabila engkau memandang diri masih merasa ada suatu perbuatan pun, maka itulah syirik khofi walaupun engkau tidak berbuat syirik jalli syiri yang nyata. Allah ta’ala berfirman; “Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan masih dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan memandang Wujud dan perbuatan selain Allah.” Karena itulah sayyid umar bin Al Farid rohimahullah berkata; “Andaikata terlintas didalam fikiranku suatu kehendak yang lain dari Mu karena lalai lupa, maka aku sebut diriku ini dengan murtad”. Dan syekh Abu Abbas Al Mursi rohimahullah berkata; “Andaikata aku terhijab terlupa dari Tuhanku meskipun sekejap mata, maka tidaklah lagi aku termasuk manusia”. Jadi, engkau disebut musyrik apabila engkau tidak mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya. Dan jalan mukmin itu adalah memandang bahwa Tiada yang berbuat, yang hidup, dan yang Maujud dalam wujud ini hanya Allah ta’ala sendiri. Maka apabila engkau mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya barulah engkau disebut mukmin yang benar dan lepaslah engkau dari syirik khofi, serta keluarlah engkau dari yang disebut Allah dengan musyrik. Dan jadilah engkau Ahli Tauhid yang benar yang disegerakan surga di dalam dunia ini. Serta patutlah atas engkau dimuliakan oleh Allah dalam akhirat. Allah ta’ala berfirman; Qs. Arrohman46; “Dan dua surga bagi siapa saja yang takut saat menghadap Tuhannya.” Surga pertama adalah surga Musyahadah menyaksian Allah yang di dapat dari Ma’rifatullah di dunia ini. Surga kedua adalah surga Akhirat yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam alqur’anul karim. Syekh Al alimul Allamah Al Bahrur Ghoriq Marlan Abdullah ibnu Hijazi As Syarqowi Al Mishri rohimahullah, berkata; “Barang siapa yang telah memasuki surga ma’rifatullah di dunia ini, niscaya tiada berhasrat lagi kepada surga akhirat yang berupa bidadari, istana, dan segala sesuatu yang disana. Hasratnya hanya ingin sedekat-dekatnya pada hadirat Allah dan Rukyatullah melihat Allah. Maka nikmat yang paling tinggi di akhira adalah Rukyatullah, sebagaimana firman Allah; “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, melihat Tuhannya.” Jadi jauh sekali perbedaannya antara nikmat Rukyatullah melihat Allah dibandingkan nikmat seperti bidadari, istana, dan segala sesuatu yang ada disana. Begitu pula tentang Musyahadah menyaksikan Allah di dunia ini dalam arti ma’rifatullah yang telah terbuka pada hati orang-orang yang Arifbillah, itu hanya sebagian kecil saja dibandingkan dengan Rukyatullah di akhirat kelak. Walaupun demikian, niscaya mereka akan mendapatkannya karena mereka telah menyaksikan Allah di dunia ini. Seperti firman Allah “Barang siapa buta didunia ini, maka di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa mereka para Arifbillah telah mendapat jaminan dari Allah karena mereka tidak buta terhadap-Nya di dunia ini. Suatu perkataan dari Arifbillah Maulana syekh Abdul Wahab Sya’roni qoddasallahu sirrahu dalam kitab jawahirul wad daruri, ia menukil dari perkataan syekh Al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rohimahullah, yaitu bahwa; Segala Akwan keadaan/kejadian ini adalah dinding yang mendidingi kita dari HAQ ta’ala. Padahal hanya HAQ ta’ala inilah yang berbuat dibalik hijab semua akwan ini. Seperti; bayang-bayang kayu di dalam air sungai yang seakan-akan merintangi jalannya perahu. Adapun perahu yang tidak mau melewatinya, karena menyangka itu kayu yang sebenarnya, maka ia telah terhijab. Jadi barang siapa terbuka hijab niscaya dilihatnya bahwa yang berbuat pada segala perbuatan itu adalah Allah ta’ala sendiri. Dan barang siapa tidak terbuka hijab, maka ia terdinding dari akwan ini, sehingga ia tidak mampu memandang Fa’il pelaku yang sebenarnya yaitu Allah. Makhluk Tuhan di dunia ini merupakan perwujudan kasih sayang-Nya, dan bukan kemarahan-Nya. Karenanya dunia tidak dilumuri dosa sebelumnya. Di dalam neraka-Nya, kenikmatan juga akan dirasakan oleh makhluk-Nya. Syekh Al Akbar Ibnu Arabi menerangkan bahwa kata Azab siksa berasal dari kata Adzb lezat, artinya bahwa dari siksa akan lahir kenikmatan. Ikan memang harus di air, sedang salamander harus berada dalam api, keduanya tidak mungkin bertukar tempat. Mereka bagaikan penderita penyakit kudis yang dikupas bagian terluar lukanya, di dalamnya masih akan ditemukan kenikmatan, dan mereka bagaikan seorang sakit yang memang harus minum obat pahit, untuk menghilangkan rasa sakit. Renungkanlah karena masalah ini indah sekali. Berkaitan dengan Tauhidul Af’al, Arifbillah maulana Quthubul syekh muhyidin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah, menjelaskan tentang firman Allah ta’ala; “Allah setiap saat dalam kesibukan.” Hal ini berarti bahwa setiap saat alam semesta dan diri kita ini selalu mengalami perubahan, karena Allah setiap saat terus menerus sibuk dalam menciptakan sampai saat ini pun. “Akan tetapi kebanyakan manusia ragu terhadap ciptaan baru Pada saat kita terhijab belum mengetahui bahwa segala perbuatan itu dari Allah, kita menyangka bahwa setiap perbuatan itu dari kita dan untuk kita sendiri. Maka itu berarti, Allah memberi suatu cobaan dengan menyandarkan perbuatan itu kepada kita, sehingga kita menyangka bahwa kita yang berbuat. Dan apabila kita telah masuk kehadirat ihsan beribadah seakan-akan melihat Allah dan terbuka dinding hijab antara kita dengan Allah, niscaya kita lihat bahwa segala perbuatan itu sebenarnya terbit bersumber dari Allah ta’ala sendiri dan kita sebenarnya tidak melakukan suatu perbuatan pun. Hal ini seperti sabda nabi Muhammad saw; “Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim / Tidak ada daya upaya usaha dan kekuatan untuk berbuat kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Kemudian apabila kita sampai kepada Musyahadah ini, maka takwa lah kita dengan tetap istiqomah dalam pegangan pendirian syara’ yaitu Adab akhlak kita kepada Allah..
Jikaaf'alul khomsah dimasuki huruf nashob, maka dibuang nun akhirnya. Contohnya: اَنْ يَفْعَلَا, اَنْ تَفْعَلَا, اَنْ يَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلِيْ Contohnya di dalam Al Quran, ada di bawah ya. Mengapa Fi'il Mudhari Menjadi Manshub? Fiil mudhari menjadi manshub, karena dimasuki oleh amil nawashib.
Sifatdan Af 'al Allah. Sifat dan perbuatan atau af'al Allah terangkun di dalam Asma` al-Husna yakni nama-nama Allah yang indah. Asma` al-Husna atau nama-nama Allah yang indah dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok nama-nama Allah yang menggambarkan kelembutan, kesantunan, cinta dan kasih sayang.
Secara bahasa Arab Af'alul khomsah berarti fi'il yang lima, Pengertian af'alul khomsah adalah setiap fi'il mudhori' yang bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak dan ya' mu'annas mukhotobah. afa'alul khomsah atau fi'il yang lima itu sebagai berikut يَفْعَلَانِ artinya dia berdua laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلَانِ artinya Kamu berdua laki-laki sedang mengerjakanيَفْعَلُوْنَ artinya Mereka laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلُونَ artinya Kalian laki-laki sedang mengerjakanتَفْعَلِيْنَ artinya kalian wanita sedang mengerjakanAf'alul Khomsah bisa mempunyai tanda i'rob nashob dan i'rob jazm dengan membuang huruf nun yang berada di akhir katanya, karena terdapatnya amil nawashib yang menashobkan dan amil jawazim yang menjazmkan af'alul Contoh Af'alul Khomsah di dalam Al Qur'anBerikut adalah 20 contoh af'alul khomsah yang terdapat di dalam al qur'an, adapun warna kuning kami berikan kepada lafadz yang menunjukkan af'alul khomsah supaya memudahkan di dalam mempelajari dan memahaminya. وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ Artinya "Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" QS. Al-Baqarah Ayat 30 ta'lamuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al baqoroh ayat 30. فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ Artinya ",,, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."" QS. Al-Baqarah Ayat 38 yahzanuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al baqoroh ayat 38وَلَكُمْ فِيْهَا جَمَا لٌ حِيْنَ تُرِيْحُوْنَ وَحِيْنَ تَسْرَحُوْنَ Artinya "Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan." QS. An-Nahl Ayat 6 tasharuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 6وَاَ لْقٰى فِى الْاَ رْضِ رَوَا سِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَ نْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ Artinya "Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk," QS. An-Nahl Ayat 15 tahtaduuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 15وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِ لَيْهِ تَجْئَرُوْنَ Artinya "Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." QS. An-Nahl Ayat 53 taj'aruuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 53 وَيَجْعَلُوْنَ لِمَا لَا يَعْلَمُوْنَ نَصِيْبًا مِّمَّا رَزَقْنٰهُمْ ۗ تَا للّٰهِ لَـتُسْـئَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُوْنَ Artinya "Dan mereka menyediakan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, untuk berhala-berhala yang mereka tidak mengetahui kekuasaannya. Demi Allah, kamu pasti akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan." Yaj'aluuna, ya'lamuuna dan taftaruuna contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat للّٰهُ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ حْيَا بِهِ الْاَ رْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يَةً لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ Artinya "Dan Allah menurunkan air hujan dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengarkan pelajaran." QS. An-Nahl Ayat 65 Yasma'uuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 65 ۚ فَمَا الَّذِيْنَ فُضِّلُوْا بِرَآ دِّيْ رِزْقِهِمْ عَلٰى مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُمْ فَهُمْ فِيْهِ سَوَآءٌ ۗ اَفَبِنِعْمَةِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ Artinya "tetapi orang yang dilebihkan rezekinya itu tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama merasakan rezeki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?" QS. An-Nahl Ayat 71 Yajhaduuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat an Nahl ayat 71فَلَعَلَّكَ بَا خِعٌ نَّـفْسَكَ عَلٰۤى اٰثَا رِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَـدِيْثِ اَسَفًا Artinya "Maka barangkali engkau Muhammad akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini Al-Qur'an." QS. Al-Kahf Ayat 6 Lam yu'minuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 6, di mana asalnya adalah yu'minuuna, karena ada huruf lam, sehingga menjadi i'rob jazm dengan membuang huruf nun pada lafadz yu'minuunaفَقَا لُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ لَنْ نَّدْعُوَاۡمِنْ دُوْنِهٖۤ اِلٰهًـا لَّـقَدْ قُلْنَاۤ اِذًا شَطَطًا Artinya lalu mereka berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran."" QS. Al-Kahf Ayat 14, lan nad'uwa adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 14, di mana asalnya adalah nad'uwana, karena ada huruf lan, sehingga menjadi nashhob dengan membuang huruf اِنْ يَّظْهَرُوْا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوْكُمْ اَوْ يُعِيْدُوْكُمْ فِيْ مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوْۤا اِذًا اَبَدًا Artinya "Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."" QS. Al-Kahf Ayat 20. In yadharuu dan lan tuflihuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 20, di mana asalnya adalah yadharuuna dan tuflihuuna, karena ada huruf lan dan in, sehingga menjadi nashob dengan tandanya membuang huruf يَقُوْلُ نَا دُوْا شُرَكَآءِيَ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَّوْبِقًا Artinya "Dan ingatlah pada hari ketika Dia berfirman, "Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu." Mereka lalu memanggilnya, tetapi mereka sekutu-sekutu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan neraka." QS. Al-Kahf Ayat 52. falam yastajiibuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 52, di mana asalnya adalah yastajiibuuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob jazm dengan tandanya membuang huruf الْمُجْرِمُوْنَ النَّا رَ فَظَنُّوْۤا اَنَّهُمْ مُّوَا قِعُوْهَا وَ لَمْ يَجِدُوْا عَنْهَا مَصْرِفًا Artinya "Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya." QS. Al-Kahf Ayat 53 lam yajiduu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 53, di mana asalnya adalah yajiduuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob jazm dengan tandanya membuang huruf nunوَمَا مَنَعَ النَّا سَ اَنْ يُّؤْمِنُوْۤا اِذْ جَآءَهُمُ الْهُدٰى وَيَسْتَغْفِرُوْا رَبَّهُمْ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْاَ وَّلِيْنَ اَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَا بُ قُبُلًا Artinya "Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali keinginan menanti datangnya hukum Allah yang telah berlaku pada umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." QS. Al-Kahf Ayat 55 an yu'minuu dan yastaghfiruu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 55, di mana asalnya adalah yu'minuuna dan yastaghfiruuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda nashob dengan tandanya adalah membuang huruf nun ۗ بَلْ لَّهُمْ مَّوْعِدٌ لَّنْ يَّجِدُوْا مِنْ دُوْنِهٖ مَوْئِلًا Artinya "Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu untuk mendapat siksa yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya." QS. Al-Kahf Ayat 58 lan yajiduu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 58, di mana asalnya adalah yajiduuna, karena ada huruf lam, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمَا قَوْمًا ۙ لَّا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ قَوْلًا Artinya "Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan." QS. Al-Kahf Ayat 93 yafqohuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 93,اَفَحَسِبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنْ يَّتَّخِذُوْا عِبَا دِيْ مِنْ دُوْنِيْۤ اَوْلِيَآءَ ۗ اِنَّاۤ اَعْتَدْنَا جَهَـنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ نُزُلًا Artinya "Maka apakah orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sungguh, Kami telah menyediakan Neraka Jahanam sebagai tempat tinggal bagi orang-orang kafir." QS. Al-Kahf Ayat 102 an yattakhidzuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 102, di mana asalnya adalah yattakhidzuuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا Artinya "Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." QS. Al-Kahf Ayat 104 yahsabuuna adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Kahf ayat 104,كُلَّمَاۤ اَرَا دُوْۤا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَذُوْقُوْا عَذَا بَ الْحَرِيْقِ Artinya "Setiap kali mereka hendak keluar darinya neraka karena tersiksa, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya. Kepada mereka dikatakan, "Rasakanlah azab yang membakar ini!"" QS. Al-Hajj Ayat 22 an yakhrujuu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Hajj ayat 22, di mana asalnya adalah yakhrujuuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun ٱلَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّاۤ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗ وَلَوْلَا دَ فْعُ اللّٰهِ النَّا سَ بَعْضَهُمْ بِبَـعْضٍ Artinya "yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, ,, QS. Al-Hajj Ayat 40. An yaquuluu adalah contoh af'alul khomsah di dalam al qur'an surat al Hajj ayat 40, di mana asalnya adalah yaquuluuna, karena ada huruf an, sehingga mempunyai tanda i'rob nashob dengan tandanya membuang huruf nun
TAUHIDUL AF’AL, ASMA, SIFAT DAN DZATInilah pelajaran tentang TAUHIDUL AF’AL, TAUHIDUL ASMA, TAUHIDUSSIFAT DAN TAUHIDUL AF’ALMENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA PERBUATAN Dalam pelajaran atau pengajian-pengajian yang terdahulu mungkin kita sudah mendapatkan pelajaran bahwa selain untuk membersihkan hati juga kita mempunyai titik tujuan pelajaran dan ilmu Thoriqat tasawuf yaitu adalah menuju jalan kembali kepada Allah dan supaya wusul dan liqo/ bertemu Allah. Maka bagi seorang salik/ penuntut haruslah dimulai dengan mempelajari dan mengamalkan tauhidul af’al, artinya meng esakan Allah Ta’ala pada segala perbuatan. Yakni meninggalkan seluruh perbuatan yang ada pada makhluk ini kepada Allah. Maksudnya pandanganlah olehmu dengan syuhud hati dan dengan mata kepala dengan itikad yang putus dan dengan haqqul yakin, bahwa segala perbuatan dan gerakan yang ada terlihat dalam alam ini, baik yang datang dari diri kita sendiri maupun yang datang dari semua mahluk yang ada dalam alam ini , baik perbuatan yang diridhoi oleh syara' maupun yang dilarang oleh syara' adalah kesemuanya itu perbuatan Allah Ta’ itu perbuatan Allah , maka kalau kita lihat pada lahirnya segala perbuatan itu dilakukan oleh manusia/hamba dan segala hayawan dan lain-lain sebagainya. Tetapi namun kita teliti dengan cermat dan dengan penuh keyakainan dan dengan tinjauan akal, dengan seksama bahwasanya memang mahluk ini lemah, dhaif, hina tak punya daya upaya sama sekali. Dan tidak punya sifat ta’sir dan sebagainya. Sedangkan segala pebuatan itu tidak akan ada kalau sifat yang memperbuat itu tidak memiliki sifat-sifat tsb. Sifat-sifat ta’sir itu ialah Qudrat, Iradat, ilmu, hayat sedang semua sifat-sifat itu ialah kepunyaan dan milik Allah. Jadi segala perbuatan yang ada terlihat pada alam ini dan diri kita, itulah perbuatan mazazi namanya dan bukan hakiki. Itu adalah kenyataan perbuatan Allah kepada menyandarkan perbuatannya kepada kita, adalah tanda kasih sayangnya, supaya kita punya titik dan penempatan mengenal perbuatan Allah dan ASMA MENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA ASMAMaksud dan tujuan meng esakan Allah Ta’ala pada nama yaitu yang sebenarnya ialah untuk mengenal dzat Allah, sehingga manakala kita memandang,mendengar,atau melihat nama apapun jua pada mahluk ini,maka tercurahlah pandangan basyirah kita dan perhatian kita kepada Allah Adapun pengertiaan meng esakan asma itu ialah menyatukan,meninggalkan,dan mengembalikan seluruh nama-nama atau nama-nama yang ada pada mahluk ini kepada nama dan dzat Allah Ta’ala. Baik nama-nama yang menurut hikmah dan manfa’at daripada benda alam ini ataupun nama-nama menurut perbuatan mahluk ini. yang disebut dengan nama perbuatan atau asmaul af’al. Sekira-kira dalam pandangan basyirah hati kita tidak ada yang bernama kecuali Allah. Jadi nama-nama ini tidak terbatas kepada asmaul husna saja, tetapi lebih luas dan lebih mendalam sekali atau tak dapat dihinggakan. Bermula kafiat meng Esakan Allah Ta’ala pada asma itu, yaitu kita pandang dengan mata kepala dan dengan mata hati kita pada asma Allah semata. Atau harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala dengan dalil-dalil dan alasan sebagai berikut i. Karena af’al mahluk adalah mazhar dan kenyataan perbuatan Allah. Maka begitu juga asma mahluk adalah mazhar asma Allah yang tujuannya adalah untuk mengenal Tiap-tiap nama menuntut ujud sama, yakni tiap-tiap nama tidak terpisah dengan dzat yang empunya nama. Sedangkan kalau diperiksa dengan teliti dan dipandang dengan pandangan ma’rifat,maka tidak ada yang maujud pada hakikatnya kecuali dzat Allah Ta’ SIFATMENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA SEGALA SIFATMaksudnya meng Esakan Allah Ta’ala pada segala sifat ialah megembalikan, meninggalkan seluruh sifat-sifat yang ada pada mahluk ini kedalam sifat-sifat Allah dengan pengertian yaitu memfanakan sifat-sifat mahluk ini,kedalam sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga tercapailah pandangan,bahwa tidak ada yang bersifat kecuali Allah Ta’ala tujuannya adalah untuk ma’rifat kepada Allah,sedangkan sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah nyata sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan sengaja Allah zahirkan sifat-sifatnya itu kepada hambanya atau mahluknya, karena rahmatnya supaya mahluk itu sendiri mempunyai tangga dan jembatan untuk mengenal sifat-sifat Allah. Dan bukan jadi dinding dan hijab untuk melihat sifat-sifat kaifiat dan cara memandang sifat Allah itu ialah Engkau pandang dengan mata hatimu dan dengan mata zahirmu dengan haqqul yakin dan dengan itiqad yang putus, bahwasanya tidak ada yang bersifat di dalam alam ini kecuali Allah. Seperti qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basyar dan kalam. Semuanya adalah sifat-sifat sifat-sifat yang ada pada mahluk ini adalah sifat-sifat mazazi belaka, bukan hakiki. Maka daripada itu nyatalah kepada kita bahwa sifat-sifat yang ada pada kita sekarang ini adalah nyata sifat-sifat Allah semata. Kalau kita sudah mengembalikan sifat-sifat yang ada pada kita itu kepada Allah, niscaya fanalah sifat-sifat kita itu kepada sifat-sifat tidak ada lagi yang bersifat,kecuali Allah. Jadi jelaslah sudah kepada kita bahwa kita ini tidak punya perbuatan,tidak punya nama dan tidak punya sifat kecuali Allah. DZATMENGESAKAN ALLAH TA’ALA PADA DZATMeng Esakan Allah Ta’ala pada dzat adalah jalan yang terakhir dari perjalan seorang salik. Disnilah titik terahir bagi arif billah untuk menuju Allah dan disini perhentian perjalanan kaum sufi dan para wali-wali disinilah batasnya mi’rojnya orang-orang mukmin sejati. Apabila sudah mencapai kepada makam tauhidul dzat itu, maka diperolehnya kelezatan dan kenikmatan yang tiada dengan itulah yang dapat memuaskan dahaga jiwanya menenangkan qolbunya,nikmat-nikmat yang tak dapat diperoleh orang lainnya. Inilah puncak rasa menikmati ridhonya , puncak kebahagiaan yang kekal dan abadi sepanjang masa. Sumber dari Haris Haris / THORIQAT NAQSYABANDIYAH About roslanTv Tarekat Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.
soaljawab ke 61-62: apa contoh-contoh sifat al af'al atau perbuatan allah azzawajal dari ayat-ayat al-qur'an? apa contoh-contoh sifat al af'al atau perbuatan allah azzawajalla dari sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam? 4 Februari 2009 at 1211 PM Menurut Muhammad Abduh, bahwa “At-tauhid huwa wahdaniyatullah fi al-zat wa al-sifat wa al-af’al wa al-ibadah wama siwazaalik”, artinya, “Tauhid itu adalah meng-esakan Allah dalam zat, dalam sifat, dalam perbuatan, dalam ibadah, dalam pujian, dalam pemeliharaan, dan dalam hal-hal lain.” Perbuatan-perbuatan Allah adalah sesuatu yang unik, yang hanya itu saja, dan tidak ada yang lain dapat menyamai apa yang dilakukan Allah. Artinya, perbuatan Allah adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah tanpa ada sesuatu lain yang dapat menyamai ataupun menirukan apa yang dilakukan Allah Swt. Perbuatan-perbuatan Allah ini ditujukan semuanya dalam rangka sifat Maha Rahman dan Maha Rahim yang tujuannya untuk kebaikan makhluk-Nya, terutama untuk makhluk-Nya yang paling unggul, yaitu manusia. Sehingga dengan demikian sebenarnya, apa yang dilakukan Allah Swt itu sesungguhnya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Karena itulah, Allah Swt mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan untuk manusia itu merupakan sesuatu yang pasti tujuannya untuk kebaikan. Pertama kali Allah menciptakan alam dan isinya, “fi khalqissamawaati wal ardh” dalam penciptaan langit-langit dan bumi, untuk apa itu? Yaitu untuk kebaikan kita. Allah menciptakan bahwa di langit-langit itu atau di antara langit dan bumi terdapat ruang yang berisi udara. Untuk apa itu? Semuanya untuk manusia pula. Dan karena itu pula, Allah kemudian mengungkapkan, bahwa dalam rangka kebaikan itu, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik pula. Sehingga diungkapkan dalam satu ayat yang terdapat dalam Surat At-Tiin, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. At-Tiin 4 Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh Allah itu adalah mempunyai tujuan-tujuan khusus. Ketika menciptakan kebaikan, Allah mempunyai tujuan. Demikian juga ketika ada hal-hal yang ternyata itu merupakan sesuatu yang dinilai merugikan bagi manusia, tetapi dalam hal-hal yang merugikan itu ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Setiap Rasul mendapat anugerah mu’jizat yang dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya. Nabi Isa mendapat mu’jizat pengobatan, sehingga dapat menolong sebagian umatnya yang menderita penyakit yang ketika itu belum ada obatnya, dan nabi-nabi yang lain pun juga mendapat mu’jizat yang kemudian dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya umatnya ketika itu. Lantas apakah anugerah Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat memberikan nilai-nilai positif atau kenikmatan-kenikmatan kepada umatnya seperti para nabi dan rasul yang terdahulu yang mendapat anugerah mu’jizat sehingga dapat memberikan nilai-nilai positif dan kenikmatan kepada umat-umatnya ketika itu? Di dalam Surat Ali Imran ayat 190-191 disebutkan Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, Ali Imraan 190 Siapakah ulil albab itu? yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ali Imraan 191 Tampaknya di sini Allah telah memberikan perbandingan, bahwa umat-umat terdahulu merupakan umat-umat yang keras, yang hanya mau percaya kalau mereka melihat sesuatu yang diinformasikan itu secara nyata. Sampai-sampai ketika mereka dianjurkan untuk beriman kepada Allah, jawaban mereka apa? Lam nu’minalaka, hatta narallaha jahratan Ya Musa, kami tidak akan beriman kepada apa yang kamu informasikan, sampai kami melihat Allah yang merupakan Sang Khalik dapat kita lihat secara nyata. Sehingga pada ayat tadi sebetulnya adalah untuk teguran, bahwa umat Nabi Muhammad itu secara budaya sudah lebih modern dibandingkan umat Nabi Musa. Sekarang kita ini secara budaya dan secara ilmu pengetahuan, sudah lebih modern dibandingkan dengan para sahabat. Tetapi, kemodernan akibat budaya, akibat kemajuan penalaran, mengapa masih harus disertai dengan pemikiran umat masa lalu yang kalau sesuatu itu harus terlihat nyata di depan kita. Maka Allah menegur, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta dalam pergantian malam dan siang, itu sebetulnya sudah cukup sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagai tanda dan bukti bahwa Allah itu Wujud ada, Allah itu Qadirun berkuasa/mampu melakukan segala sesuatu, tanpa harus ditunjukkan bahwa Allah itu seperti ini dan seperti itu. Sehingga bukanlah cara yang terbaik untuk membuktikan bahwa Allah itu ada, yaitu dengan meminta sesuatu yang nyata, walaupun itu memang mu’jizat. Dalam bahasa aqidah, apa yang dianugerahkan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi-nabi terdahulu itu dinamakan “Mu’jizat Mu’aqqatah” mu’jizat yang temporer, yang hanya terjadi sekali dan tidak akan pernah terulang lagi. Sehingga, Nabi Musa memukulkan tongkat maka laut terbelah menjadi jalan, itu takkan terulang lagi. Begitu juga ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu dan batu itu memancarkan dua belas mata air, itu hanya terjadi sekali dan takkan pernah terulang lagi. Apakah Rasulullah Saw pernah mendapatkan mu’jizat mu’aqqatah? Pernah, yaitu ketika dalam suatu peperangan, makanan habis, padahal ketika itu pasukan istirahat, perut lapar, energi habis, maka kemudian Rasulullah bisa memperbanyak makanan yang sedikit. Tetapi itupun hanya terjadi sekali. Dengan seperti ini, apakah umat Rasulullah Saw para sahabat ketika itu hanya menginginkan bukti yang hanya sekali saja, kemudian tidak dapat dinalar dan dibuktikan kembali pada masa-masa yang akan datang. Maka kemudian Allah menegur, bahwa kalau masih bersikap demikian meminta bukti yang nyata berupa mu’jizat mu’aqqatah, maka umat Rasulullah akan dikategorikan bukan termasuk “ulul albab”. “albab” itu jamak dari “lubbun”, “lub” artinya intisari. Intisari dari manusia adalah akal dan jiwanya. “ulul albab” adalah kelompok yang memiliki saripati kemanusiaan. Artinya yang memiliki akal dan jiwa yang difungsikan. Sehingga kita-kita ini akan disebut sebagai orang yang memiliki akal yang difungsikan, atau sebaliknya yaitu yang memiliki akal tapi tidak difungsikan? Pernah dikritik Allah, “lahum quluubun laa yafqahu nabiha” mereka punya jiwa, punya hati, punya akal, tapi tidak dipakai untuk memikirkan segala sesuatu. Mereka punya mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ciptaan Allah Yang Maha Sempurna. Mereka punya telinga, tapi tidak dipergunakan untuk mendengar kebaikan-kebaikan yang disampaikan. Sehingga kemudian Allah menegur, apakah kita manusia mau memilih mana antara “ulul albab” atau orang-orang yang hanya puas dengan bukti sesaat. Kalau memilih “ulul albab”, maka di situlah, “allazina yazkurunallah” yang selalu berzikir ingat kepada Allah kapan saja, di mana saja, serta bagaimanapun keadaannya, selalu mengingat Allah. Ketika kita ingat kepada Allah, apa implikasinya? Implikasinya adalah kita menjadi ingat kepada ciptaan-Nya, Maha Kuasa-Nya, Maha Kebaikan-Nya. Sehingga ini akan mendorong kita, kalau Allah Maha Baik, saya bisa tidak menjadi baik, kalau Allah Maha Pengampun, saya bisa tidak mengampuni sesama. Ini akan mendorong kita untuk memiliki sifat-sifat yang ada pada Allah. Sehingga nantinya akan, “Rabbana, maa khalaqta haaza baathila” Ya Allah, sungguh tidak sia-sia Engkau ciptakan sesuatu yang ada di dunia. Sungguh tidak sia-sia Allah menciptakan segala sesuatunya di atas dunia ini. Bahkan bencana alam sekalipun merupakan ciptaan Allah, yaitu ciptaan yang sesuai dengan sunnatullah. Kalau begitu di mana letaknya kalau ciptaan ini memberikan kebaikan bagi manusia? Dengan bencana alam, pada awalnya manusia memang mengalami banyak kerugian, banyak yang mati, lingkungannya rusak dan sebagainya. Tapi dengan bencana alam ini ternyata kemudian menimbulkan kesadaran, kepedulian dari sesama menyikapi musibah yang menimpa saudaranya, sehingga tergerak untuk membantu. Inilah nilai positifnya. Tidak ada hal yang sia-sia dari apa yang diciptakan oleh Allah di atas dunia ini, meskipun bencana alam sekalipun. Kalau kita menghayati semua ini, maka kita akan menemukan hikmah dan tujuan dari penciptaan Allah tentang hal-hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pasti pada akhirnya kita akan menemukan sesuatu yang memberikan nilai manfaat dan nilai lebih bagi kehidupan kita. Apakah tujuan Allah mengutus Nabi? Allah mengungkapkan, “Ketika Allah menciptakan manusia dalam kondisi terbaik, maka di situ pula Allah kemudian tidak akan pernah meninggalkan manusia dalam keterpurukannya.” Ketika manusia tersesat karena tidak lagi dapat mengikuti ajaran-ajaran para Rasul terdahulu karena banyaknya polusi-polusi kebudayaan serta noda-noda kemaksiatan yang mengotori akidah atau ajaran agama yang disampaikan Rasul, sehingga umat cenderung untuk melakukan kemungkaran, maka Allah tidak tinggal diam. Maka diutuslah para Nabi untuk mengingatkan lagi. Kemudian setelah Sang Nabi wafat, tidak berapa lama kemudian digantikan dengan Nabi yang lain. Sehingga, selalu ada Nabi yang menggantikan. Mengapa? Karena tujuannya adalah untuk menghindarkan umat manusia dari kesesatan, dari kesalahan syari’at, serta dari kesalahan ibadah. Ketika Rasulullah ditetapkan sebagai Khatamun Nabiyyin Nabi Yang Terakhir, apakah ini berarti setelah Rasulullah Saw wafat, maka Allah kemudian akan meninggalkan manusia, yang kemudian manusia akan hidup dalam keterpurukan dan kesesatan? Namun Rasulullah kemudian menginformasikan Innallaha yursilu li kulli ummatin ala ra’simiatin man yujaddidu laha diinaha Sesungguhnya Allah selalu akan mengirim pada setiap umat seseorang yang selalu akan memperbaharui pemahaman agama yang sudah menyimpang, agar umat tadi terhindar dari kezaliman. Sepeninggalan Rasulullah, maka muncullah mujaddid pertama di dalam Islam, yaitu Umar bin Khattab Khalifah Kedua dari Khulafaur Rasyidin. Apa jasa beliau sehingga dikenal sebagai mujaddid pertama di dalam Islam yang mengingatkan umat? Jasa beliau adalah untuk melestarikan Al-Qur’an, yaitu mengusulkan agar wahyu yang diterima Rasulullah disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena ketika itu, begitu Rasulullah wafat ternyata sebagian Bangsa Arab ketika menyatakan memeluk Agama Islam lebih dikarenakan wibawa Rasulullah atau lebih didorong karena akhlak Rasulullah. Dikhawatirkan sepeninggalan Rasulullah, orang-orang yang memeluk Islam karena pengaruh wibawa Rasulullah itu akan berbalik kepada kejahiliyahan. Semasa hidup Rasulullah, otoritas penetapan hukum berada pada beliau selaku penerima wahyu. Sehingga sepeninggalan Rasulullah, tinggallah Al-Qur’an sebagai pedoman hukum, selain juga Sunnah Rasulullah yang ketika itu juga belum dikodifikasi dibukukan, sama halnya dengan Al-Quran. Dalam hal ini, Umar bin Khatthab memandang perlu dan pentingnya Al-Quran untuk segera disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena saat itu Al-Qur’an memang belum dibukukan, melainkan pencatatannya masih tercerai berai dan lebih banyak mengandalkan catatan dan hafalan para sahabat yang mencatat Al-Qur’an semasa hidupnya Rasulullah. Sedangkan saat itu masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq, banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang. Sehingga berkaitan dengan hal ini, maka ide Umar bin Khattab untuk menyatukan Al-Qur’an dalam satu jilid mushaf dapat dikatakan sebagai ide pembaharuan tajdid. Umar bin Khatthab selaku tokoh tajdid pembaharuan itu dapatlah dikatakan sebagai mujaddid pembaharu. Berkaitan dengan akhlak Rasulullah yang menjadi magnet tersendiri bagi syi’ar Agama Islam, sehingga semasa hidupnya Rasulullah banyak Bangsa Arab yang masuk Islam karena akhlak Rasulullah, bukan karena akidah yang ditawarkan. Maka sangat tepatlah ketika Rasulullah menyatakan, “Innama bu’istimu li utammima makarimal akhlaq,” Sesungguhnya Rasulullah itu diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tentang kemuliaan akhlak Rasulullah ini, pernah terjadi ketika di Mekkah setiap kali Rasulullah berangkat ke Ka’bah ketika itu untuk beribadah, yang saat itu wahyu untuk melakukan perintah shalat lima waktu shalat fardhu belumlah diterima Rasulullah, sehingga ibadah Rasulullah ketika itu hanya dilakukan dua kali, yaitu “bukratan wa ashiila”, yaitu pagi dan petang, yang mana ibadah seperti ini sudah dilakukan Rasulullah sejak beliau menerima wahyu. Diceritakan bahwa setiap Rasulullah berangkat ke Ka’bah, di perempatan jalan sudah menunggu seseorang. Begitu melihat Rasulullah, orang tersebut langsung memaki-maki. Kadang-kadang makian tak mempan, maka diambilnya pasir lalu dilemparnya ke arah Rasulullah. Tapi Rasulullah tak mempedulikan itu. Rasulullah hanya tersenyum saja atas perlakuan orang tersebut. Sehingga orang tersebut semakin kesal saja. Mengapakah orang tersebut kesal? Orang tersebut kesal, karena keinginannya ketika dia memaki-maki Rasulullah, maka Rasulullah juga harus membalasnya dengan memaki-maki ataupun marah. Karena kalau Rasulullah marah, maka dia orang itu mempunyai alasan untuk melakukan perbuatan yang lebih dari itu. Namun Rasulullah hanya tersenyum saja menanggapi itu semua. Suatu saat ketika Rasulullah berangkat ke Ka’bah, ternyata orang yang biasanya memaki-maki beliau tersebut tidak ada. Rasulullah pun heran, karena tak biasanya, dan Rasulullah merasa ada sesuatu yang kurang dan janggal, karena biasanya disambut oleh sesuatu, tapi saat itu tidak. Akhirnya Rasulullah melanjutkan perjalanan ke Ka’bah. Setelah dari Ka’bah, Rasulullah pun bertanya-tanya, kemana gerangan orang yang biasanya memaki-maki dirinya itu. Ternyata setelah diketahui, bahwa orang tersebut sedang sakit. Lalu Rasulullah bergegas pulang, kemudian minta kepada istrinya Khadijah untuk membungkuskan makanan. Dengan membawa makanan, Rasulullah pun langsung menjenguk orang tersebut ke rumahnya. Mengetahui bahwa yang datang adalah Rasulullah, orang tersebut semakin ketakutan, takut kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Rasulullah pun masuk ke rumah orang tersebut. Ternyata ketakutan orang tersebut tak terbukti, karena Rasulullah datang bukanlah untuk membalas dendam, melainkan untuk menjenguk orang tersebut yang sedang sakit. Maka orang tersebut kemudian hilang rasa takutnya, malahan kemudian muncul penghargaan dan rasa simpati terhadap Rasulullah, karena orang-orang di sekitarnya belum ada yang peduli kalau dia sedang sakit. Tapi ini, orang yang selama ini dimusuhinyalah yaitu Rasulullah yang peduli dan menjenguknya yang sedang sakit. Ketika Rasulullah akan pamit pulang dan mau keluar dari rumah orang tersebut, tiba-tiba orang tersebut memanggil “Ya Muhammad, aslamtu bima da’awtani”, ya Muhammad, saya menyatakan keislaman saya terhadap apa yang engkau dakwahkan kepada kami. Islamnya orang tersebut karena apa? Bukan karena keyakinan bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu benar, bukan karena mempercayai bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu datang dari Allah. Tetapi lebih dikarenakan akhlak mulia Rasulullah. Manusia, karena secara fitrah mempunyai potensi fujur kekuatan yang selalu mengajak kepada keburukan, maka pasti tidak ada satupun manusia yang terhindar dari keinginan untuk melakukan keburukan. Sehingga berbuat buruk itu konon sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun di sinilah, ketika kita melakukan keburukan, hendaknya segera sadar bahwa itu salah. Bagaimana memperbaikinya? Ikutilah perbuatan buruk tadi dengan perbuatan baik yang dapat menghapus, yang dapat menjadi kompensasi dari perbuatan buruk tadi. Oleh karena itulah, kita selalu dianjurkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Karena kebaikan itulah yang sesuai dengan tujuan Allah dalam penciptaannya, yaitu penciptaan itu adalah untuk kebaikan. Ketika menganjurkan umat, maka ungkapannya adalah wal takum minkum ummatun, yaf’uuna ila khairi “hendaknya di antara kamu ada sekelompok orang yang mau mengajak kebaikan,” bukan mengajak kepada keimanan terlebih dahulu. Wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhaw anil munkar, setelah mengajak kepada kebaikan, baru kemudian mengajak kepada ajaran syari’ah. Dan itu ternyata sesuai dengan misi pengutusan Allah terhadap Rasul-Nya, li utammima makarimal akhlaq. Kemudian ungkapan tadi dilanjutkan, wa ahsin kama ahsanallahu ilaika, “dan berbuatlah yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi kita bagi manusia”. Pada yang pertama adalah perintah yang baik, maka perintah selanjutnya adalah berbuat yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi manusia. Jadi, semua yang dilakukan Allah terhadap manusia adalah segala sesuatu yang terbaik. Bandingkan dengan apa yang dilakukan manusia. Kalau kita manusia melakukan suatu kegiatan, seringkali semampunya saja. Padahal ketika melakukan sesuatu, kadang kita mengeluarkan tenaga, mungkin juga berfikir bagaimana melaksanakannya, mungkin juga harus mengeluarkan uang. Namun karena di dalam hati niat melakukannya itu seenaknya, maka hasil yang dicapaipun menjadi seenaknya. Berbeda ketika kita melakukan pekerjaan dengan niat untuk mencari hasil yang terbaik, sama-sama mengeluarkan tenaga, biaya, dan penalaran, namun karena dilandasi dengan niat untuk mencapai yang terbaik ahsin, maka hasilnyapun menjadi yang terbaik. Manusia selalu ingin karyanya dihargai. Kalau itu yang diinginkan, tampaknya kita perlu bersikap seperti yang dilakukan Allah, bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pasti ada manfaatnya, pasti membawa sesuatu yang berfaedah bagi makhluk-Nya. Mengapa bagi makhluk-Nya? Karena Allah tidak memerlukan sesuatu, Allah tidak memerlukan apa-apa. Yang dilakukan Allah adalah untuk kepentingan makhluk-Nya, terutama manusia. Sehingga, ketika kita menghayati Keesaan Allah dalam penciptaan, maka hanya Allah yang dapat melakukan segala sesuatu dengan tanpa sia-sia. Rabbana maa khalaqta haaza baathila, maksudnya adalah bahwa apapun yang dilakukan Allah, apapun yang yang diciptakan oleh Allah, pasti akan memberikan nilai tambah bagi manusia. Ini keesaan Allah. Dan kewajiban kita adalah meniru apa yang dilakukan oleh Allah. Yang pasti kita tidak dapat menyamai-Nya, walam ya kullahu kufuwan ahad tidak ada satupun yang dapat menyamai Allah-dalam segala halnya, namun yang dapat kita lakukan hanyalah meniru-Nya. Kalau Allah menciptakan sesuatu adalah selalu memiliki manfaat dan tujuan, kitapun bisa melakukan itu apabila disertai keinginan untuk melakukan dengan yang terbaik, karena sesuatu yang terbaik akan memberikan manfaat. Dalam bahasa teologinya disebut bahwa pengiriman Rasul itu merupakan “nazhariyatusshalah wal ashlah” yang artinya “teori kebaikan dan yang terbaik”, maksudnya adalah bahwa yang dilakukan oleh Allah kepada makhluk-Nya itu adalah sesuatu yang baik dan terbaik. Sehingga setiap makhluk mesti diberi sarana untuk menjadikan dirinya baik dan terbaik. Makhluk yang lemah dan tak memiliki pertahanan diri yang dapat diandalkan ternyata diberi kemampuan lain. Misalnya, kijang tidak mempunyai pertahanan diri, tapi dia diberi kemampuan bisa lari cepat. Ini adalah untuk kebaikan makhluk itu sendiri. Cumi-cumi tidak dapat menentang predator hewan pemangsa, maka dia diberi kemampuan bisa mengeluarkan cairan hitam yang bisa membuat gelap, sehingga dia bisa menyelamatkan diri. Manusiapun begitu. Bahkan kelengkapan dan kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah merupakan sesuatu yang komprehensif menyeluruh, dari tangan, kaki, akal , pendengaran, penciuman, dan sebagainya, yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan manusia. Maa khalaqta haaza bathila, untuk apa penciptaan Allah yang luar biasa itu? Semuanya adalah ditujukan untuk manusia. Sehingga kita layak menyikapi apa yang ada di sekitar kita, bahwa itu semua adalah ciptaan Allah yang harus kita hayati, kita sikapi, dan kita respon dengan bijaksana. Sehingga kita tidak terlanjur menyikapi dengan sembrono, yang pada akhirnya dapat menyebabkan sesuatu yang salah. Pada saat Rasulullah telah dipastikan sebagai insan pilihan, sebagai manusia yang selalu berjalan dalam kebenaran, mendapat wahyu yang berasal dari Allah, itupun beliau tidak boleh sembarangan. Surat Yaasin mengungkapkan Yaasin, wal quranil hakim Yaasin, Demi Qur’an yang penuh dengan ajaran-ajaran dengan kebijaksanaan. Innaka laminal mursalin Sesungguhnya engkau ya Muhammad adalah benar-benar dari kelompok yang dipilih Tuhan menjadi Rasul yang diutus. Ala shiratal mustaqim Yang pasti berada pada jalan yang benar. Tanziilal azizirrahim Yang mendapat wahyu turun dari Allah. Walaupun sebagai seorang Rasul, tapi tidak boleh berdakwah semaunya. Bagaimana berdakwah? Seperti yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu “hakim”, “hikmah”, kebijaksanaan. Ada ungkapan, qulil haqqa walaukaana murran katakanlah yang benar walaupun itu pahit. Tapi menurut Al-Qur’an tidak begitu. Kalau Al-Qur’an ajarannya adalah seperti yang tersebut pada Surat Al-Baqarah “wakuulu linnaasi husna”, artinya “berbicaralah pada manusia-manusia orang-orang di sekitarmu dengan cara yang terbaik,” maksudnya adalah menyampaikan sesuatu kebenaran dengan nuansa kebaikan. Kalau ingin mengatakan yang benar, bagaimana ungkapan yang benar tersebut dapat diinformasikan dengan cara yang baik dan benar pula, sehingga tidak menyakitkan. Karena kalau “qulil haqqa walaukaana murran” katakanlah yang benar walaupun itu menyakitkan. Tapi kalau dalam Al-Qur’an tidak seperti itu. Sebab kalau sesuatu yang benar disampaikan dengan cara yang keras, maka orang-orang akan lari. Ayat Al-Qur’an juga mengisyaratkan itu “fabima rahmatin min rabbika lintalahum walau kunta fardhan ghalizal qalbi lan fazlu min haulik” maka dengan rahmat Allah, anugerah Allah, yang dikaruniakan kepadamu, hendaknya kamu bersikap lemah-lembut, walaupun yang kamu sampaikan itu benar tapi kalau menyampaikannya dengan cara yang keras dan kaku, maka orang-orang akan lari. Apa saja yang diciptakan Allah ternyata untuk kebaikan manusia. Walaupun apa yang dilakukan Allah itu benar dan bermanfaat, tapi apabila tidak disikapi secara bijak, justru akan menyebabkan munculnya kebencian. Mungkin ada di antara umat Islam yang kurang memperhatikan ini, sehingga kalau menyampaikan kebenaran justru menimbulkan kebencian orang lain. Maka mungkin kita harus menyikapi dengan “fabima rahmatin min rabbika lintalahum”, bersikap lemah-lembut. Jika mengajak kepada kebaikan dan memberantas kemungkaran, bagaimana melaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah, yaitu dengan cara yang lembut, sehingga tidak menimbulkan kebencian. Wal qur’anil hakim demi Al-Qur’an yang di dalamnya penuh dengan ajaran-ajaran yang bijaksana. Ternyata Al-Qur’an itu ajarannya penuh dengan kebijakan-kebijakan. Sehingga sebenarnya itulah tujuan Allah menciptakan hal-hal yang ada di sekitar kita. Itulah tujuan Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, yang kemudian menjadi imaman pedoman, wa nuuran, wa hudan, wa rahmah. Dan yang jangan dilupakan adalah “wa rahmah” dan rahmat, maksudnya adalah bahwa Al-Qur’an itu dapat menjadi hal-hal yang menimbulkan kasih sayang. Dari kata “rahmat” muncul Ar-Rahman Ar-Rahim yang artinya kasih sayang. Sehingga apa yang dilakukan Allah Swt betul-betul merupakan keesaan-Nya, yang semuanya ditujukan untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan, kasih sayang-kasih sayang di antara kita sesama makhluk-Nya. Apabila ini dapat kita hayati, maka pasti akan menimbulkan dorongan pada diri kita. Mengapa saya tidak melakukan yang terbaik, kalau yang burukpun memerlukan tenaga, sama-sama lelahnya. Karena itu, mungkin seperti Allah Swt yang tidak pernah membenci makhluk-Nya, walaupun makhluk-Nya ingkar, tapi Allah selalu membuka pintu taubat, karena menginginkan kebaikan bagi makhluk-Nya. Inilah keesaan Allah dalam perbuatan-Nya. Atau “at-tauhiid fi af’al”. [] Disarikan dari Pengajian Tauhid yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, pada tanggal 12 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor Hanafi Mohan. Entry filed under Akidah Akhlak, Islamika. Tags akhlak, tauhid. 1 Tajalli Af'al Tajalli Af'al (perbuatan) lenyapnya af'al seorang hamba dan yang ada hanya af'al Allah SWT. Af'al yang hakiki adalah Af"al Allah. Segala sesuatu yang ada ini pada hakikatnya adalah hasil af'al Allah, yang dilakukan oleh makhluknya merupakan sunatullah semata. Sunatullah yang merupakan sebab dan akibat Setiapperbuatan dan tindakan. manusia bergantung kepada usaha. dan ikhtiar manusia sendiri. Contohnya :- makan , minum , rajin. ,malas dan lain-lain. f Afal Manusia. IKHTIARI IJBARI. Sesuatu perkara yang berlaku atas kemahuan,pilihan dan kehendak manusia sendiri. Contoh:-makan , minum , membaca alquran berzikir dan lain-lain.Berikutadalah 20 contoh af'alul khomsah yang terdapat di dalam al qur'an. وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُvblH.